Senin, 02 Januari 2012

The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 (2011)



Film dari The Twilight Saga ini memiliki fans dan haters yang berimbang. Ketika banyak yang mencaci saga ini, banyak pula yang senantiasa memujinya. Lucunya adalah para haters pun mencoba untuk sengaja menonton saga ini agar bisa tahu apa yang mesti dikritik. Ujung-ujungnya baik fans maupun haters, keduanya akhirnya menonton The Twilight Saga ini.
Saya termasuk fans berat The Twilight Saga. Film ini merupakan film yang sangat saya tunggu-tunggu. Setelah empat bukunya sudah saya baca dan ketiga filmnya beres saya tonton, menyaksikan film ini adalah agenda wajib yang tidak boleh saya lewatkan. Film yang menjadi bagian pertama dari buku terakhir _yang ceritanya dibagi menjadi dua film ini, menurut saya lebih baik dari film-film sebelumnya dalam hal penyampaian dan isi cerita. Meski dalam hal aksi masih kalah dibanding ‘Eclipse’, namun itu tidak menjadikan ‘Breaking Dawn Part 1’ berkurang nilainya, justru itu menjadi titik pembeda, bahwa film ini memiliki aura lain dari sebuah saga Twilight.
Dalam film ini Bella Swan (Kristen Stewart) dan vampir Edward Cullen (Robert Pattinson) memutuskan untuk menikah dan pergi ke Rio de Janeiro untuk bulan madu. Dalam waktu singkat, setelah mereka berdua bersama di Rio de Janeiro itu, Bella mengetahui bahwa dirinya hamil. Kehamilan Bella tidak seperti orang hamil pada umumnya. Perutnya cepat membesar disaat usia kehamilannya masih sangat muda. Kehamilan itulah yang akhirnya menimbulkan konflik baru. Bukan saja diantara Bella, Edward dan Jacob, melainkan Klan Volturi yang siap siaga menghadapi makhluk baru yang dikandung Bella. Disaat situasi genting proses melahirkan, akhirnya Edward memenuhi keinginan Bella untuk hidup abadi. Saya suka sekali adegan diakhir cerita film ini. Sangat berbeda dengan film-film Twilight Saga yang lain.
Film keempat ini sungguh membuat penasaran. Adegan yang paling ditunggu-tunggu adalah Pesta Pernikahan Edward Cullen dan Bella Swan. Banyak yang menanti akan seperti apakah pesta itu. Mengingat banyak sekali ekpektasi pembaca yang memiliki imajinasi masing-masing yang berbeda mengenai pernikahan itu. Termasuk saya sendiri yang begitu penasaran akan jadi seperti apa jika ditampilkan ke dalam layar lebar. Meskipun saya tahu ceritanya seperti apa, tetap saja selalu menunggu akan seperti apa hasil dalam visualisasinya. Tidak mengecewakan. Cukup mengesankan.
Film ini jelas memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan ketiga film pertama Twilight Saga.
8/10

Minggu, 01 Januari 2012

Gie (2005)



Aku tidak pernah tahu siapa itu Gie? Aku tidak terlalu tahu mengenai sejarah dan politik. Tapi bukan berarti aku tidak menyukainya, apalagi cerita sejarah dan politik ini masuk ke dalam sebuah film. Rasanya tidak salah jika aku menyediakan waktu untuk menontonnya.
Film ini dibuat oleh sutradara Riri Riza. Mengisahkan seorang tokoh yang bernama Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia yang dikenal sebagai seorang demonstran dan seorang pecinta alam. Berdasarkan sebuah buku ‘Catatan Seorang Demonstran’ karya Soe Hok Gie sendiri.
Gie mengisahkan seorang anak Indonesia keturunan Tionghoa yang tidak terlalu kaya dan tinggal di Kota Jakarta. Gie (Nicholas Saputra) dibesarkan ketika kondisi Negara Indonesia terjebak pada masa Perang Dingin. Saat itu Indonesia berada dibawah pemerintahan presiden seumur hidup, Soekarno.
Karena kebiasaan Gie membaca berbagai macam buku intelek-intelek dunia, membuatnya memiliki konsep-konsep yang dipaparkan intelek-intelek tersebut. Sejak remaja, dia sudah memiliki sikap perjuangan yang begitu kuat. Sifatnya yang idealis dan pemikirannya yang kuat tampak berbeda dari kebanyakan teman-teman seusianya. Dia memandang sesuatu secara lebih jelas dan lebih dalam. Begitu pula pandangannya terhadap Negara. Ada suatu ketidakadilan yang dirasakan olehnya mengenai sebuah kebenaran yang tidak dapat ditegakkan. Semangat juangnya membumbung tinggi, serta hatinya dipenuhi kepedulian begitu besar terhadap rakyat _yang tidak dapat merasakan indahnya demokrasi. Ada harga yang harus dibayar untuk menegakkan keadilan terhadap rakyat Indonesia _yang belum sepenuhnya merasakan nikmatnya kemerdekaan dan hak-hak yang seharusnya diberikan. Memberontaklah caranya.
Masa remaja Gie berada dibawah rejim pelopor kemerdekaan, Bung Karno. Pada masa itu, terjadi konflik antara militer dan PKI. Gie sangat menghargai Bung Karno sebagai Bapak Proklamasi atau Founding Father. Hanya saja dia  sangat membenci pemerintahan Soekarno yang menindas rakyat-rakyat miskin dan sama sekali tidak berpihak kepada rakyat. Sikap toleransinya terhadap orang lain dan rasa setiakawannya yang begitu besar, membuat hatinya tidak dapat menerima ketidakadilan dan kesalahan kedaulatan demokrasi yang sangat dijunjung tinggi sebelumnya. Dibawah jurusan sastra yang dia geluti, dia bersuara tegas dengan menulis kritikan-kritikan pedas terhadap pemerintahan di media. Pandangannya akan sebuah Negara yang makmur dan lepas dari kekuasaan yang dictator, melahirkan opini-opini tajam terhadap Negara.
Gie juga sangat mentang organisasi kemahasiswaan yang memihak pada sebuah kelompok.
Pertentangan ini menimbulkan banyak perhatian dari berbagai kalangan, namun tidak sedikit juga yang memusuhi dan memprovokasinya. Ada beberapa kalangan yang membutuhkannya, namun adapula musuh yang ingin mengintimidasi dirinya.
Gie dan kedua temannya Herman Lantang (Lukman Sardi) dan Ira (Sita Nursanti) tergabung dalam kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Dia lebih menyukai menghabiskan waktu senggangnya dengan naik gunung dan menikmati alam Indonesia. Bersama rekan-rekannya, Gie gemar menonton film dan menganalisanya. Dengan merekalah Gie bisa mengungkapkan keinginannya untuk mengubah keadaan Negara yang tidak sesuai dengan idealoginya dan menjadikannya sebuah Negara yang sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang berpegang teguh kepada kedaulatan rakyat dan demokrasi.
Dalam film ini tidak dipaparkan dengan jelas siapa sebenarnya wanita yang disukai oleh Gie. Sekalipun dia pernah berhubungan dengan Sinta (Wulan Guritno), itu tidak memberikan informasi apakah Gie menyukainya atau tidak. Sementara diakhir cerita, Gie menulis surat untuk Ira, sebelum dirinya naik ke Gunung Semeru, yang berisi mengenai keinginannya untuk bisa bersama. Kata-katanya yang puitis tidak langsung menjelaskan apakah Gie benar-benar menyukai Ira atau tidak. 
Film ini menggambarkan perjuangan Soe Hok Gie dalam menggulingkan rejim Soekarno, dan beberapa perubahan hidup yang dialaminya setelah tujuannya tercapai.
Soe Hok Gie meninggal di puncak Gunung Semeru pada bulan Desember 1969 dipangkuan sahabatnya, Herman Lantang.
Rejim Orde Baru dibawah kekuasaan Presiden Soeharto bertahan selama hampir 32 tahun, dan kembali dijatuhkan oleh mahasiswa pada tahun 1998.