Sabtu, 19 April 2014

Blue Jasmine (2013)

Ini adalah film yang mengisahkan seorang wanita New York yang mengalami gejolak emosi setelah dirinya mengalami kebangkrutan dan kemunduran financial. Namanya adalah Jasmine Francis yang dimainkan dengan penampilan yang sangat luar biasa oleh Cate Blanchett. Ia jatuh miskin setelah suaminya diciduk oleh kepolisian karena kasus penipuan keuangan skala besar.Peristiwa tersebut mengalami perubahan yang sangat drastis bagi kehidupan seorang Jasmine Francis. Ia harus rela meninggalkan rumah mewahnya di Brooklyn, New York, kemudian pindah ke rumah saudarinya di San Fransisco yang jauh dari kemewahan. Tidah mudah bagi Jasmine untuk mengalami kehidupan yang sederhana, apalagi setelah ia terlalu dibuai oleh harta. Keadaan itu membuat keadaan emosinya menjadi tidak stabil dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.

Rabu, 19 Maret 2014

Saving Mr. Banks (2013)


Film ini dibintangi oleh dua pemain hebat yaitu Tom Hanks dan Emma Thompson. Tom Hanks berperan sebagai tokoh ikonik dunia, Walt Disney. Namun, film ini tidak menitikberatkan pada tokoh Walt Disney tersebut, film ini merupakan cerita dari seorang penulis asal Inggris yang bernama P. L. Travers (Emma Thompson). P. L. Travers adalah salah satu manusia dan seorang penulis paling keras kepala, jutek, dan berkarakter kolot. Saving Mr. Banks adalah cerita tentang P. L. Travers.
 P. L. Travers adalah sosok wanita paruh baya menyebalkan yang susah diajak kerja sama bahkan oleh Walt Disney. Dalam film ini Walt Disney meminta karya P. L. Travers untuk diangkat ke layar lebar. Namun, hal itu bukanlah sesuatu yang mudah direalisasikan. P. L. Travers adalah wanita yang tidak mudah dibujuk, segalanya membutuhkan alasan yang jelas dan masuk akal baginya. Meskipun pada akhirnya P. L. Travers mau menyerahkan hasil karyanya difilmkan oleh Walt Disney. Saya bisa melihat sisi lain karakter P. L. Travers yang sesungguhnya memiliki hati yang lebih baik jauh dari karakter luarnya yang menyebalkan. Karakter itu mulai muncul pada akhir ceritanya yang mengesankan.
Film ini sangat bagus. Karakter sekompleks P. L. Travers bisa dimainkan oleh aktris hebat seperti Emma Thompson dengan baik dan tepat. Emma Thompson mampu mengisi peran penting Travers dengan performa luar biasa. Saya memang selalu menyukai jenis-jenis film yang mengutamakan sebuah cerita yang berlatar belakang sebuah masalah psikologis. Film-film tersebut mewajibkan para pemainnya untuk mampu menampilkan sosok yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan aslinya. Bahkan perbedaan tersebut bisa saja sangat ekstrim. Termasuk film ini salah satunya yang mampu dibawa oleh Emma Thompson dengan sangat sempurna. I love this movie. Great!
9/10


Jumat, 14 Maret 2014

Silver Linings Playbook (2012)


Setelah membaca beberapa review dari internet, akhirnya saya memutuskan untuk memasukan film ini ke dalam daftar film yang wajib saya tonton. Saya memilih film ini karena dua kehadiran pemain utamanya yaitu Jennifer Lawrence dan Bradley Cooper. Jenniefer Lawrence pernah menjadi pemenang di Academy Award, sementara Bradley Cooper masuk sebagai salah satu nominasi di Academy Award.  Bahkan tanpa dipuji oscar pun saya sudah terlanjur jatuh hati dengan keduanya. Dua-duanya sama menarik dan mempesona.
Film ini juga mendapatkan piala Oscar. Sudah sewajarnya saya tidak ingin melewatkan film ini begitu saja. Pasti ada kekuatan hebat dari film ini hingga mendapatkan sebuah penghargaan di Academy Award. Penghargaan paling bergengsi dunia perfilman hollywood. Dengan beberapa alasan itulah saya semakin penasaran dengan film ini.
‘Silver Linings Playbook’ adalah karya Matthew Quick dari novel yang berdujul “The Silver Linings Playbook”, bukanlah drama komedi romantis yang bisa langsung disukai kebanyakan orang. Bahkan tidak semua orang bisa memahami jenis cerita dari film ini. Cerita yang disajikan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan cerita-cerita komedi romantis pada umumnya, hanya saja film ini lebih memiliki kekuatan dari segi penyampaiannya. Karakter-karakter utamanya memiliki kisah-kisah traumatis dan gangguan mental hingga sakit jiwa. Dan itu semua merupakan inti utama dari film ini, tentang penyakit mental yang bernama bipolar dan masalah traumatis.
Pat Solitano, Jr. (Bradley Cooper) adalah pria yang memiliki penyakit bipolar setelah mengetahui isterinya berselingkuh, sedangkan Tiffany Maxwell (Jennifer Lawrence) memiliki masalah kejiwaan setelah ditinggal mati suaminya dan terlibat skandal seks. Keduanya bertemu dan mulai saling memiliki keterkaitan dalam kehidupan mereka masing-masing. Dalam film ini digambarkan bagaimana sebuah hubungan bisa terjadi diantara dua orang yang sama-sama memiliki masalah mental dan kejiwaan. Ide ceritanya sangat bagus ditambah penyampaiannya yang sangat menarik dan tidak berlebihan. Artinya cerita yang ditampilkan benar-benar natural dan alami. Mungkin ini karena penampilan yang sangat baik dari para pemainnya terutama Jennifer Lawrence dan Bradley Cooper yang mampu menunjukan chemistry mereka yang sangat kuat sebagai sepasang kekasih yang terjerat sebuah penyakit kejiwaan. Saya patut memberi nilai sembilan untuk film ini. “Silver Linings Playbook” memang hebat!
9/10

Rabu, 18 Desember 2013

Warm Bodies (2013)



Film terakhir dari Nicholas Hault yang saya tonton adalah Jack the Giant Slayer. Kali ini Nicholas Hault berperan sebagai seorang zombie atau mayat hidup.
Film ini memiliki tema yang sudah tidak asing sebenarnya, yaitu mengenai zombie. Hanya saja sudut pandang film ini diambil dari seorang zombie. Seorang zombie yang masih memiliki perasaan dan pikiran yang sama dengan manusia pada umumnya. Sebenarnya memang cukup menggelikan melihat seorang zombie memiliki perasaan dan bahkan memiliki perasaan cinta terhadap manusia, meskipun pada kenyataannya naluri untuk memangsa manusia masih tak bisa lepas begitu saja. Zombie ini lupa dengan namanya sendiri, dan yang dia ingat hanyalah huruf awal pertama namanya, yaitu ‘R’.
Kisah ini dimulai saat R (Nicholas Hault) menceritakan tentang kehidupannya sebagai seorang zombie. Bercerita mengenai aktifitas-aktifitas zombie, dan cara-cara zombie berinteraksi. Monolognya disampaikan dengan sangat ringan, segar dan lucu. Jauh dari kesan menakutkan. Saya baru tahu kalau zombie juga memiliki kepekaan. Hahaha... Peka terhadap kehidupan manusia yang pernah dirasakannya ketika menjadi manusia.
Dan cerita mengenai zombie yang jatuh cinta terhadap manusia ini dimulai ketika R berusaha memangsa sekelompok manusia. Dalam perkelahian itu, jauh dari rasional seorang zombie, R melihat manusia yang langsung menarik perhatiannya. Bukannya memangsanya, R justru mendekatinya dan melindunginya. Manusia itu seorang wanita bernama Julie Grigio (Teresa Palmer)_ saya melihat Teresa Palmer dalam film ‘I Am Number Four’ sebelumnya. R membawa Julie jauh dari benteng pembatas antara manusia dan zombie. R membawa Julie ke dalam pesawat dimana R tinggal disana. R merasakan perasaan yang lain saat melihat Julie untuk pertama kalinya, sementara Julie sebaliknya dilanda frustasi antara takut, heran, bingung, dan lega menghadapi R, padahal Julie menganggap semua zombie itu adalah pemangsa dan harus dibasmi. Tapi ada apa dengan ‘R’?
Kisah cinta zombie mencintai manusia dimulai disana. Seru, unik dan menarik. Meski tidak terlepas dari beberapa adegan yang lumayan menjijikan dan mengerikan, semua itu diimbangi dengan kisah romansa antara R dan Julie yang sederhana tapi sarat makna.
Saya suka film ini. Tema umum, penceritaan unik, ringan, serta akhir cerita yang diluar dugaan.
8/10

Rabu, 20 November 2013

The Host (2013)



Film ini diadaptasi dari sebuah novel bestseller karya Stephenie Meyer yang berjudul ‘The Host’. Penulis yang sudah dikenal banyak orang ini masih mengandalkan cerita cinta remaja yang kali ini dilatar belakangi cerita fiksi ilmiah. Dasarnya memang tetap bertahan pada genre romantis-fantasi yang tidak berbeda jauh dengan karya Stephenie Meyer sebelumnya. Melihat Stephenie Meyer yang sudah menghasilkan karyanya dengan ‘The Twilight Saga’, menyebabkan banyak sekali pendapat mengenai film ini. Ini merupakan film fiksi ilmiah yang tidak bisa dianggap remeh, meskipun bagi sebagian orang banyak yang membandingkan film ‘The Host’ dengan karya Stephenie Meyer sebelumnya. Bagi saya sendiri, ‘The Host’ memiliki keunikan tersendiri dari segi cerita.
Film ini bercerita mengenai bumi yang sudah dikuasai oleh makhluk asing yang bernama Soul Dimana manusia menjadi tubuh inang makhluk asing yang bersemayang di dalam tubuh manusia. Ras manusia diancam kepunahan, pikirannya dikuasai makhluk asing, sementara tubuhnya masih hidup dikendalikan pikiran itu. Namun tidak semuanya bisa dikendalikan, ada beberapa inang yang tak bisa menguasai ingatan, salah satunya adalah Melanie Stryder (Saoirse Ronan). Soul yang bernama Wanderer berusaha menguasai inang Melanie Stryder tersebut, sementara Melanie sendiri berusaha mengusir Soul dengan kekuatan ingatannya. Dalam pelariannya untuk menghindar dari para pencari jiwa, Melanie bertemu kembali dengan Jared Howe (Max Irons), kekasihnya yang belum terjamah Soul dalam keadaan dirinya sudah dikuasai inang. Akankah Melanie mampu menghadapi kenyataan bahwa Jared sudah tidak menganggapnya hidup? Akankah Melanie sanggup menerima kenyataan bahwa Wanderer mulai menyukai Jared Howe? Disinilah kisah romansa mereka terjadi. Kisah romansa yang tidak hanya terjadi diantara Melanie dan Jared, tetapi juga melibatkan Wanderer dan Ian O’Shea (Jake Abel).
Plot ceritanya memang terkesan sangat melankolis. Tidak semua kalangan dapat menyukai film dengan jenis seperti ini, apalagi jika sebelumnya banyak orang yang sudah terlanjur benci dengan cerita Stephenie Meyer. Dari kempat film sebelumnya, Meyer memang mengandalkan dunia fantasi vampir dan serigala dari keempat bukunya, The Twilight Saga. Menurut saya ada keterkaitan yang sangat dominan antara ‘The Twilight Saga dengan The Host. Kedua film itu sama-sama menunjukan sisi feminitas dari karakter Stephenie Meyer sendiri. Meskipun pada kenyataannya ‘The Host’ tidak semelankolis ‘The Twilight Saga’. ‘The Host’ jauh bisa dijangkau oleh para penonton yang menyukai film science fiction. Bahkan tanpa membaca bukunya seseorang bisa menikmati film ini tanpa ribet membandingkannya dengan film Stephenie Meyer yang lain. Great!
9/10