Ini adalah film yang mengisahkan seorang wanita New York yang mengalami gejolak emosi setelah dirinya mengalami kebangkrutan dan kemunduran financial. Namanya adalah Jasmine Francis yang dimainkan dengan penampilan yang sangat luar biasa oleh Cate Blanchett. Ia jatuh miskin setelah suaminya diciduk oleh kepolisian karena kasus penipuan keuangan skala besar.Peristiwa tersebut mengalami perubahan yang sangat drastis bagi kehidupan seorang Jasmine Francis. Ia harus rela meninggalkan rumah mewahnya di Brooklyn, New York, kemudian pindah ke rumah saudarinya di San Fransisco yang jauh dari kemewahan. Tidah mudah bagi Jasmine untuk mengalami kehidupan yang sederhana, apalagi setelah ia terlalu dibuai oleh harta. Keadaan itu membuat keadaan emosinya menjadi tidak stabil dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.
YOSEP DAN FILMS
Film-film yang sudah saya tonton.
Sabtu, 19 April 2014
Rabu, 19 Maret 2014
Saving Mr. Banks (2013)
Film ini dibintangi oleh dua pemain
hebat yaitu Tom Hanks dan Emma Thompson. Tom Hanks berperan sebagai tokoh
ikonik dunia, Walt Disney. Namun, film ini tidak menitikberatkan pada tokoh
Walt Disney tersebut, film ini merupakan cerita dari seorang penulis asal
Inggris yang bernama P. L. Travers (Emma Thompson). P. L. Travers adalah salah satu manusia dan seorang penulis paling
keras kepala, jutek, dan berkarakter kolot. Saving Mr. Banks
adalah cerita tentang P. L.
Travers.
P. L. Travers adalah sosok
wanita paruh baya menyebalkan yang susah diajak kerja sama bahkan oleh Walt
Disney. Dalam film ini Walt Disney meminta karya P. L. Travers
untuk diangkat ke layar lebar. Namun, hal itu bukanlah sesuatu yang mudah
direalisasikan. P. L. Travers adalah wanita yang tidak mudah dibujuk, segalanya
membutuhkan alasan yang jelas dan masuk akal baginya. Meskipun pada akhirnya P.
L. Travers mau menyerahkan hasil karyanya difilmkan oleh Walt Disney.
Saya bisa melihat sisi lain karakter P. L. Travers yang
sesungguhnya memiliki hati yang lebih baik jauh dari karakter luarnya yang
menyebalkan. Karakter itu mulai muncul pada akhir ceritanya yang mengesankan.
Film ini sangat bagus. Karakter
sekompleks P. L. Travers bisa
dimainkan oleh aktris hebat seperti Emma Thompson dengan baik dan tepat. Emma Thompson
mampu mengisi peran penting Travers dengan performa luar biasa. Saya memang selalu menyukai jenis-jenis film yang
mengutamakan sebuah cerita yang berlatar belakang sebuah masalah psikologis.
Film-film tersebut mewajibkan para pemainnya untuk mampu menampilkan sosok yang
sangat bertolak belakang dengan kehidupan aslinya. Bahkan perbedaan tersebut
bisa saja sangat ekstrim. Termasuk film ini salah satunya yang mampu dibawa
oleh Emma Thompson dengan sangat sempurna. I love this movie. Great!
9/10
Jumat, 14 Maret 2014
Silver Linings Playbook (2012)
Setelah membaca beberapa review
dari internet, akhirnya saya memutuskan untuk memasukan film ini ke dalam
daftar film yang wajib saya tonton. Saya memilih film ini karena dua kehadiran
pemain utamanya yaitu Jennifer Lawrence dan Bradley Cooper. Jenniefer Lawrence
pernah menjadi pemenang di Academy Award, sementara Bradley Cooper masuk
sebagai salah satu nominasi di Academy Award. Bahkan tanpa dipuji oscar pun saya sudah
terlanjur jatuh hati dengan keduanya. Dua-duanya sama menarik dan mempesona.
Film ini juga mendapatkan piala
Oscar. Sudah sewajarnya saya tidak ingin melewatkan film ini begitu saja. Pasti
ada kekuatan hebat dari film ini hingga mendapatkan sebuah penghargaan di
Academy Award. Penghargaan paling bergengsi dunia perfilman hollywood. Dengan
beberapa alasan itulah saya semakin penasaran dengan film ini.
‘Silver Linings Playbook’
adalah karya Matthew Quick dari novel yang
berdujul “The Silver Linings Playbook”, bukanlah drama
komedi romantis yang bisa langsung disukai kebanyakan orang. Bahkan tidak semua
orang bisa memahami jenis cerita dari film ini. Cerita yang disajikan
sebenarnya tidak berbeda jauh dengan cerita-cerita komedi romantis pada
umumnya, hanya saja film ini lebih memiliki kekuatan dari segi penyampaiannya.
Karakter-karakter utamanya memiliki kisah-kisah traumatis dan gangguan mental hingga
sakit jiwa. Dan itu semua merupakan inti utama dari film ini, tentang penyakit
mental yang bernama bipolar dan masalah traumatis.
Pat Solitano, Jr. (Bradley
Cooper) adalah pria yang
memiliki penyakit bipolar setelah mengetahui isterinya berselingkuh, sedangkan Tiffany
Maxwell (Jennifer Lawrence) memiliki masalah kejiwaan setelah ditinggal mati
suaminya dan terlibat skandal seks.
Keduanya bertemu dan mulai saling memiliki keterkaitan
dalam kehidupan mereka masing-masing. Dalam film ini digambarkan bagaimana
sebuah hubungan bisa terjadi diantara dua orang yang sama-sama memiliki masalah
mental dan kejiwaan. Ide ceritanya sangat bagus ditambah penyampaiannya yang
sangat menarik dan tidak berlebihan. Artinya cerita yang ditampilkan
benar-benar natural dan alami. Mungkin ini karena penampilan yang sangat baik
dari para pemainnya terutama Jennifer Lawrence dan Bradley Cooper yang mampu menunjukan
chemistry mereka yang sangat kuat
sebagai sepasang kekasih yang terjerat sebuah penyakit kejiwaan. Saya patut
memberi nilai sembilan untuk film ini. “Silver Linings Playbook” memang hebat!
9/10
Rabu, 18 Desember 2013
Warm Bodies (2013)
Film terakhir dari Nicholas Hault yang
saya tonton adalah Jack the Giant Slayer. Kali ini Nicholas Hault berperan
sebagai seorang zombie atau mayat hidup.
Film ini memiliki tema yang sudah tidak
asing sebenarnya, yaitu mengenai zombie. Hanya saja sudut pandang film ini
diambil dari seorang zombie. Seorang zombie yang masih memiliki perasaan dan
pikiran yang sama dengan manusia pada umumnya. Sebenarnya memang cukup menggelikan melihat seorang zombie memiliki
perasaan dan bahkan memiliki perasaan cinta terhadap manusia, meskipun
pada kenyataannya naluri
untuk memangsa manusia masih tak bisa lepas begitu saja. Zombie ini lupa dengan
namanya sendiri, dan yang
dia ingat hanyalah huruf awal pertama namanya, yaitu ‘R’.
Kisah ini dimulai saat R (Nicholas
Hault) menceritakan tentang kehidupannya sebagai seorang zombie. Bercerita
mengenai aktifitas-aktifitas zombie, dan cara-cara zombie berinteraksi.
Monolognya disampaikan dengan sangat ringan, segar dan lucu. Jauh dari kesan
menakutkan. Saya baru tahu kalau zombie juga memiliki kepekaan. Hahaha... Peka terhadap kehidupan manusia yang pernah
dirasakannya ketika menjadi manusia.
Dan cerita mengenai zombie yang jatuh
cinta terhadap manusia ini dimulai ketika R berusaha memangsa sekelompok
manusia. Dalam perkelahian itu, jauh dari rasional seorang zombie, R melihat
manusia yang langsung menarik perhatiannya. Bukannya memangsanya, R justru
mendekatinya dan melindunginya. Manusia itu seorang wanita bernama Julie Grigio
(Teresa Palmer)_ saya melihat Teresa Palmer dalam film ‘I Am Number Four’
sebelumnya. R membawa Julie jauh dari benteng pembatas antara manusia dan
zombie. R membawa Julie ke dalam pesawat dimana R tinggal disana. R merasakan
perasaan yang lain saat melihat Julie untuk pertama kalinya, sementara Julie sebaliknya dilanda frustasi antara
takut, heran, bingung, dan lega menghadapi R, padahal Julie menganggap semua
zombie itu adalah pemangsa dan harus dibasmi. Tapi ada apa dengan ‘R’?
Kisah cinta zombie mencintai manusia
dimulai disana. Seru, unik dan menarik. Meski tidak terlepas dari beberapa
adegan yang lumayan menjijikan dan mengerikan, semua itu diimbangi dengan kisah
romansa antara R dan Julie yang sederhana tapi sarat makna.
Saya suka film ini. Tema umum, penceritaan
unik, ringan, serta akhir cerita yang diluar dugaan.
8/10
Rabu, 20 November 2013
The Host (2013)
Film ini diadaptasi dari sebuah novel bestseller karya Stephenie Meyer
yang berjudul ‘The Host’. Penulis yang
sudah dikenal banyak orang ini masih mengandalkan
cerita cinta remaja yang kali ini dilatar belakangi cerita fiksi ilmiah. Dasarnya memang tetap bertahan pada genre romantis-fantasi yang tidak
berbeda jauh dengan karya Stephenie Meyer sebelumnya. Melihat Stephenie Meyer
yang sudah menghasilkan karyanya dengan ‘The Twilight Saga’, menyebabkan banyak
sekali pendapat mengenai film ini. Ini merupakan film fiksi ilmiah yang tidak
bisa dianggap remeh, meskipun bagi sebagian orang banyak yang membandingkan
film ‘The Host’ dengan karya Stephenie Meyer sebelumnya. Bagi saya sendiri, ‘The
Host’ memiliki keunikan tersendiri dari segi cerita.
Film ini bercerita mengenai
bumi yang sudah dikuasai oleh makhluk asing yang bernama Soul Dimana manusia menjadi tubuh inang
makhluk asing yang bersemayang di dalam tubuh manusia. Ras manusia diancam
kepunahan, pikirannya dikuasai makhluk asing, sementara tubuhnya masih hidup
dikendalikan pikiran itu. Namun tidak semuanya bisa dikendalikan, ada beberapa
inang yang tak bisa menguasai ingatan, salah satunya adalah Melanie Stryder (Saoirse Ronan). Soul yang bernama Wanderer berusaha menguasai inang
Melanie Stryder tersebut, sementara Melanie sendiri berusaha mengusir Soul dengan
kekuatan ingatannya. Dalam pelariannya
untuk menghindar dari para pencari jiwa, Melanie bertemu kembali dengan Jared
Howe (Max Irons), kekasihnya yang belum terjamah Soul dalam keadaan dirinya
sudah dikuasai inang. Akankah Melanie mampu menghadapi kenyataan bahwa Jared
sudah tidak menganggapnya hidup? Akankah Melanie sanggup menerima kenyataan
bahwa Wanderer mulai menyukai Jared Howe? Disinilah kisah romansa mereka
terjadi. Kisah romansa yang tidak hanya terjadi diantara Melanie dan Jared,
tetapi juga melibatkan Wanderer dan
Ian O’Shea (Jake Abel).
Plot ceritanya memang terkesan
sangat melankolis. Tidak semua kalangan dapat menyukai film dengan jenis
seperti ini, apalagi jika sebelumnya banyak orang yang sudah terlanjur benci
dengan cerita Stephenie Meyer. Dari kempat film
sebelumnya, Meyer memang mengandalkan
dunia fantasi vampir dan serigala dari keempat bukunya, ‘The Twilight Saga’. Menurut saya ada
keterkaitan yang sangat dominan antara ‘The
Twilight Saga’
dengan ‘The Host’. Kedua film itu
sama-sama menunjukan sisi feminitas dari karakter Stephenie Meyer sendiri. Meskipun pada
kenyataannya ‘The Host’ tidak semelankolis ‘The Twilight Saga’. ‘The Host’ jauh
bisa dijangkau oleh para penonton yang menyukai film science fiction. Bahkan tanpa
membaca bukunya seseorang bisa menikmati film ini tanpa ribet membandingkannya
dengan film Stephenie Meyer yang lain. Great!
9/10
Langganan:
Postingan (Atom)



