Aku tidak pernah tahu siapa itu Gie? Aku
tidak terlalu tahu mengenai sejarah dan politik. Tapi bukan berarti aku tidak
menyukainya, apalagi cerita sejarah dan politik ini masuk ke dalam sebuah film.
Rasanya tidak salah jika aku menyediakan waktu untuk menontonnya.
Film ini dibuat oleh sutradara Riri
Riza. Mengisahkan seorang tokoh yang bernama Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas
Indonesia yang dikenal sebagai seorang demonstran dan seorang pecinta alam.
Berdasarkan sebuah buku ‘Catatan Seorang Demonstran’ karya Soe Hok Gie sendiri.
Gie mengisahkan seorang anak Indonesia
keturunan Tionghoa yang tidak terlalu kaya dan tinggal di Kota Jakarta. Gie (Nicholas
Saputra) dibesarkan ketika kondisi Negara Indonesia terjebak pada masa Perang
Dingin. Saat itu Indonesia berada dibawah pemerintahan presiden seumur hidup,
Soekarno.
Karena kebiasaan Gie membaca berbagai
macam buku intelek-intelek dunia, membuatnya memiliki konsep-konsep yang
dipaparkan intelek-intelek tersebut. Sejak remaja, dia sudah memiliki sikap
perjuangan yang begitu kuat. Sifatnya yang idealis dan pemikirannya yang kuat
tampak berbeda dari kebanyakan teman-teman seusianya. Dia memandang sesuatu
secara lebih jelas dan lebih dalam. Begitu pula pandangannya terhadap Negara.
Ada suatu ketidakadilan yang dirasakan olehnya mengenai sebuah kebenaran yang
tidak dapat ditegakkan. Semangat juangnya membumbung tinggi, serta hatinya
dipenuhi kepedulian begitu besar terhadap rakyat _yang tidak dapat merasakan
indahnya demokrasi. Ada harga yang harus dibayar untuk menegakkan keadilan
terhadap rakyat Indonesia _yang belum sepenuhnya merasakan nikmatnya
kemerdekaan dan hak-hak yang seharusnya diberikan. Memberontaklah caranya.
Masa remaja Gie berada dibawah rejim
pelopor kemerdekaan, Bung Karno. Pada masa itu, terjadi konflik antara militer
dan PKI. Gie sangat menghargai Bung Karno sebagai Bapak Proklamasi atau
Founding Father. Hanya saja dia sangat
membenci pemerintahan Soekarno yang menindas rakyat-rakyat miskin dan sama
sekali tidak berpihak kepada rakyat. Sikap toleransinya terhadap orang lain dan
rasa setiakawannya yang begitu besar, membuat hatinya tidak dapat menerima
ketidakadilan dan kesalahan kedaulatan demokrasi yang sangat dijunjung tinggi
sebelumnya. Dibawah jurusan sastra yang dia geluti, dia bersuara tegas dengan
menulis kritikan-kritikan pedas terhadap pemerintahan di media. Pandangannya
akan sebuah Negara yang makmur dan lepas dari kekuasaan yang dictator,
melahirkan opini-opini tajam terhadap Negara.
Gie juga sangat mentang organisasi
kemahasiswaan yang memihak pada sebuah kelompok.
Pertentangan ini menimbulkan banyak perhatian
dari berbagai kalangan, namun tidak sedikit juga yang memusuhi dan
memprovokasinya. Ada beberapa kalangan yang membutuhkannya, namun adapula musuh
yang ingin mengintimidasi dirinya.
Gie dan kedua temannya Herman Lantang
(Lukman Sardi) dan Ira (Sita Nursanti) tergabung dalam kelompok Mahasiswa
Pecinta Alam (MAPALA) UI. Dia lebih menyukai menghabiskan waktu senggangnya
dengan naik gunung dan menikmati alam Indonesia. Bersama rekan-rekannya, Gie
gemar menonton film dan menganalisanya. Dengan merekalah Gie bisa mengungkapkan
keinginannya untuk mengubah keadaan Negara yang tidak sesuai dengan idealoginya
dan menjadikannya sebuah Negara yang sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang berpegang
teguh kepada kedaulatan rakyat dan demokrasi.
Dalam film ini tidak dipaparkan dengan
jelas siapa sebenarnya wanita yang disukai oleh Gie. Sekalipun dia pernah
berhubungan dengan Sinta (Wulan Guritno), itu tidak memberikan informasi apakah
Gie menyukainya atau tidak. Sementara diakhir cerita, Gie menulis surat untuk
Ira, sebelum dirinya naik ke Gunung Semeru, yang berisi mengenai keinginannya
untuk bisa bersama. Kata-katanya yang puitis tidak langsung menjelaskan apakah
Gie benar-benar menyukai Ira atau tidak.
Film ini menggambarkan perjuangan Soe
Hok Gie dalam menggulingkan rejim Soekarno, dan beberapa perubahan hidup yang
dialaminya setelah tujuannya tercapai.
Soe Hok Gie meninggal di puncak Gunung
Semeru pada bulan Desember 1969 dipangkuan sahabatnya, Herman Lantang.
Rejim Orde Baru dibawah kekuasaan
Presiden Soeharto bertahan selama hampir 32 tahun, dan kembali dijatuhkan oleh
mahasiswa pada tahun 1998.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar